1, sangat senang karena mendapatkan pengalaman baru di bidang kewirausahaan.
konspirasi kepada habib Riziq menimbulkan babak baru
Jakarta -SUARAPELAJAR.COM Isu miring muncul di balik merebaknya konten pornografi di situs baladacintarizieq. Kepada pengacaranya, Habib Rizieq Syihab menepis tuduhan yang tertuju kepadanya.
“Dia sudah memberikan deklarasi statemen, sudah bersumpah wallahi saya tidak pernah berzinah, saya tidak pernah membunuh, saya tidak pernah minum minuman keras dan sebagianya,” ujar kuasa hukumnya, Kapitra Ampera saat menirukan pernyataan Rizieq di AQL, Tebet Utara, Jaksel, Selasa (16/5/2017).
Kapitra juga menerangkan Rizieq marah saat mengetahui istrinya dibawa-bawa juga dalam kasus ini. Namun dia menyatakan rumah tangga keduanya tetap akur.
“Tetapi rumah tangganya tetap akur karena keduanya saling setia dan saling percaya,” terangnya.
Mengenai hubungan Rizieq dengan Firza Husein, Kapitra mengungkapkan keduanya layaknya hubungan seorang guru dengan murid. Tak ada kedekatan khusus antar keduanya.
“Sebagai tokoh public figure dan figur muslim semua orang datang ke dia, dia juga berikan pengajian-pengajian rutin di Petamburan. Jadi banyak sekali ada kajian ibu-ibu, ada kajian umum. Tentu orang merasa dekat dengan dia karena dia sebagai gurunya, tetapi belum tentu Rizieq dekat dengan dia. Sebagai ulama banyak muridnya,” ungkapnya.
(knv/fjp) detiknews.com
Habib Rizieq Mau dilemparkan dalam Turbulensi Moralitas
Syarikat Islam Tegaskan Ekonomi Sebagai Jalur Dakwah
SUARAPELAJAR.COM, JAKARTA — Ketua Umum DPP Syarikat Islam (SI), Hamdan Zoelva mengingatkan, ekonomi merupakan jalur dakwah yang sudah diamanatkan. Termasuk, oleh dua tokoh bangsa Hos Tjokroaminoto dan Soekarno.
“Makanya, Tjokroaminoto dan Soekarno sering bicara kalau kita jangan sampai cuma jadi kuli di negeri ini,” kata Hamdan saat memberi sambutan, Jum’at (12/5).
Bahkan, lanjut Hamdan, Islam sendiri masuk ke Indonesia bukan menggunakan senjata tapi melalui jalur ekonomi. Hal itu justru yang dia rasa membuat dakwah Islam bisa sangat tersebar luas ke seantero Nusantara.
Hamdan mengingatkan, pada masa pemerintahan Belanda dan VOC ekonomi Indonesia benar-benar dimatikan, dan cuma kelompok Timur Asing dan Thionghoa yang diizinkan. Maka itu, kebebasan ini harus dimanfaatkan memajukan ekonomi.
“Sejak kongres, kita sudah sepakat mengembalikan asas Syarikat Islam di jalur dakwah sosial ekonomi, wujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Hamdan.
Untuk itu, walau didasari Islam, ia meminta DPW-DPW Syarikat Islam tidak sibuk mengurusi persoalan fikih. Menurut Hamdan, sudah banyak ormas-ormas Islam di Tanah Air yang mengurusi itu, dan tidak perlu ikut-ikutan.
“Biarkan masing-masing menjalankan ajaran Islam sesuai fikih yang dianut,” kata Hamdan.
Syarikat Islam Jakarta: Mari Beraksi, Bukan Berteori
SUARAPELAJAR.COM, JAKARTA — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Syarikat Islam (SI), Mayjen (Purn) Suprapto, mengingatkan tugas penting yang sudah diemban pengurus. Maka itu, ia menilai tidak ada waktu lagi selain untuk melaksanakan misi SI.
“Bukan berteori, tapi mari kita beraksi,” kata Suprapto saat memberi sambutan usai dilantik langsung Ketua Umum DPP SI Hamdan Zoelva, Jum’at (12/5).
Ia menerangkan, sejak dulu para pendiri Syarikat Islam saja sudah memikirkan betu bagaimana nasib perekonomian bangsa. Karenanya, Suprapto menegaskan generasi penerus tidak boleh ketinggalan memajukan ekonomi bangsa.
Suprapto mengajak rekan-rekan pengurus Syarikat Islam, terutama di DPR DKI Jakarta, untuk fokus mengatasi soal ekonomi bangsa. Sebab, lanjut Suprapto, ekonomi merupakan masalah pangkal dan kunci kemajuan bangsa.
“Sebab, dengan ekonomi, kita mampu bergandengan tangan, tidak lagi terkotak-kotak,” ujar Suprapto yang disambut tepuh tangan riuh segenap pengurus DPW SI DKI Jakarta.
Untuk itu, ia menekankan DPW DKI Jakarta sudah siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan selama masa jihad 2017-2020. Menurut Suprapto, semua itu harus dilakukan demi menjadi SI benar-benar jadi rumah besar umat Islam.
“Ta’dib”, Konsep Ideal Pendidikan Islam
Oleh: Amin Hasan
AWAL pendidikan Islam bermula dari tempat yang sangat sederhana, yaitu serambi masjid yang disebut al-Suffah. Namun, walaupun hanya dari serambi masjid, tetapi mampu menghasilkan ilmu-ilmu keislaman yang bisa dirasakan sampai dengan sekarang. Tidak hanya itu, dari serambi masjid ini pula mampu mencetak ulama-ulama yang sangat dalam keilmuannya dimana pengaruhnya sangat besar sekali bagi peradaban Islam, bahkan juga mampu mempengaruhi peradaban-peradaban lain. Sudah barang tentu, “pendidikan” menjadi syarat utama dalam membangun sebuah peradaban yang besar. Oleh sebab itu, pendidikan merupakan tema yang tidak pernah sepi dan selalu manarik perhatian banyak kalangan. Sehingga,tarik-ulur konsep yang ideal pun selalu mewarnai dalam sejarah perjalanan pendidikan. Begitu pun yang terjadi dalam dunia Islam.
Namun, sungguh disayangkan bahwa dalam perkembangannya, kondisi sebagaimana diawal pendidikan Islam terdahulu sudah kurang terasa lagi dari institusi pendidikan Islam yang ada sekarang. Sebagaimana sebuah obor, maka obor tersebut sudah hampir padam. Agar obor tersebut tidak padam dan terus menyala, maka pendidikan Islam seperti yang telah diwariskan oleh ulama-ulama terdahulu harus dihidupkan kembali. Di sinilah tulisan ini hadir untuk mengeksplor konsep pendidikan Islam yang akan dikhususkan pada konsep ta’dib yang ditawarkan oleh Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Ada tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam yaitu at-tarbiyah, al-ta’lim dan at-ta’dib. Umumnya, istilah pendikan Islam banyak menggunakan at Tarbiyah. Padahal menurut Naquib Al Attas, pengertian ta’dib lebih tepat dipakai untuk pendidikan Islam daripada ta’lim atau tarbiyah.
Ta’dib merupakan mashdar dari addaba yang secara konsisten bermakna mendidik. Ada tiga derivasi dari kata addaba, yakni adiib, ta’dib, muaddib. Seorang guru yang mengajarkan etika dan kepribadian disebut juga mu’addib. Setidaknya. Seorang pendidik (muaddib), adalah orang yang mengajarkan etika, kesopanan, pengembangan diri atau suatu ilmu agar anak didiknya terhindar dari kesalahan ilmu, menjadi manusia yang sempurna (insan kamil) sebagaimana dicontohkan dalam pribadi Rasulullah SAW. Cara mendidiknya perlu dengan menggunakan cara-cara yang benar sesuai kaidah. Karena itu ta’dib berbeda dengan mengajarkan biasa sebagai mana umumnya mengajarkan siswa di sekolah yang hanya dominan mengejar akademis dan nilai.
Istilah ini menjadi penting untuk meluruskan kembali identitas dari konsep-konsep pendidikan Islam yang secara langsung maupun tidak langsung telah terhegemoni oleh pendidikan negara-negara sekuler.
Mengembalikan prioritas utama pendidikan Islam
Al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan asas dalam pendidikan Islam. Sehingga, bisa dipahami bahwa tujuan dari pendidikan Islam adalah untuk mentauhidkan diri kepada Allah. Artinya, mentauhidkan diri kepada Allah adalah prioritas utama dalam pendidikan Islam selain dari tujuan keilmuan (IPTEK, keahlian, keterampilan dan profesionalisme), membentuk manusia untuk menjadi khalifah, pembentukan akhlak yang mulia, membentuk insan Islami bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat, serta mempersiapkan manusia bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, arah dan tujuan, muatan materi, metode, dan evaluasi peserta didik dan guru harus disusun sedemikan rupa agar tidak menyimpang dari landasan akidah Islam.
Bertauhid kepada Allah sebagai prioritas utama dalam pendidikan Islam secara tidak langsung juga berarti pendidikan Islam juga bertujuan mencari keridhaan-Nya.
Artinya, peningkatan individu-individu yang kuat pada setiap peserta didik diperoleh melalui ridha Allah. Jadi tidak benar jika dalam pendidikan individu peserta didik diletakkan pada posisi kedua setelah kebutuhan sosial-politik masyarakat. Al-Attas menjelaskan, bahwa penekanan terhadap individu bukan hanya sesuatu yang prinsipil, melainkan juga strategi yang jitu pada masa sekarang. (baca Aims and Objevtives) Di sinilah letak keunikan dari pendidikan Islam yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan selain Islam, dimana pendidikan yang dilakukan berpusat pada pencarian ridha Allah melalui peningkatan kualitas individu.
Bisa dibayangkan betapa bahayanya jika pendidikan dilihat sebagai ladang investasi baik dalam kehidupan sosial masyarakat maupun negara. Sudah bisa dipastikan bahwa dunia pendidikan akan melahirkan patologi psiko-sosial, terutama dikalangan peserta didik dan orang tua, yang terkenal dengan sebutan “penyakit diploma” (diploma disease), yaitu usaha dalam meraih suatu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan itu sendiri, melainkan karena nilai-nilai ekonomi dan sosial. (baca Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas).
Hal tersebut, Al-Attas melanjutkan dalam karnyanya yang lain, dikarenakan pendidikan menurut Islam adalah untuk menciptakan manusia yang baik, bukan untuk menghasilkan warga negara dan pekerja yang baik. Hal ini sangat ditentukan oleh tujuan mencari ilmu itu sendiri. Sebab semua ilmu datang dari Allah Swt, maka ilmu merangkumi iman dan kepercayaan.
Dalam maksud yang sama bahwa ilmu tidak bebas nilai. Oleh karena itu, Al-Attas menegaskan bahwa tujuan menuntut ilmu adalah penanaman kebaikan atau keadilan dalam diri manusia sebagai manusia dan diri-pribadi, dan bukannya sekadar manusia sebagai warga negara atau bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Inilah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai penduduk dalam kota-dirinya (self’s city), sebagai warga negara dalam kerajaan mikrokosmiknya sendiri, sebagai ruh. Inilah yang perlu ditekankan, manusia bukan sekadar suatu diri jasmani yang nilainya diukur dalam pengertian pragmatis atau utilitarian yang melihat kegunaannya bagi negara, masyarakat dan dunia. (baca: Islam and Secularism).
Dalam semangat yang sama, Muhammad ‘Abduh juga mengkritik dengan tajam pragmatisme yang terjadi dalam pendidikan yang secara khusus ia tujukan pada sistem pendidikan Mesir. Inti dari semuanya adalah bahwa prioritas utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk orang menjadi terpelajar.
Menurut Al-Attas, orang terpelajar adalah orang “baik”. Pertanyaannya kemudian, apakah sesederhana itu pendidikan Islam? Apakah pendidikan Islam hanya membentuk orang hanya sekadar menjadi “baik”? Apa sebenarnya “baik” yang dimaksud Al-Attas di atas?
Konsep Ideal
Konsep Ideal pendidikan Islam secara sistematis telah disampaikan Al-Attas dalam sebuah Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam di Makkah pada awal tahun 1977. Pada Konferensi tersebut, Al-Attas menjadi salah seorang pembicara utama dan mengetuai komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan.
Dalam kesempatan ini, Al-Attas mengajukan agar definisi pendidikan Islam diganti menjadi penanaman adab dan istilah pendidikan Islam menjadi ta’dib. Konsep ta’dib ini disampaikan kembali oleh Al-Attas pada Konferensi Dunia Kedua mengenai Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Islamabad, pada 1980.
Sebenarnya apa yang menjadi alasan Al-Attas terus-menerus memperjuangkan konsep ta’dib sebagai pengganti dari Pendidikan Islam? Itu tidak lain, karena menurut Al-Attas, jika benar-benar dipahami dan dijelaskan dengan baik, konsep ta’dib adalah konsep yang paling tepat untuk pendidikan Islam, bukannya tarbiyah ataupun ta’lim. Sebab, Al-Attas melanjutkan, bahwa struktur kata ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah). Sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah-ta’lim-ta’dib. (baca The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education).
Masih dalam karya yang sama, Al-Attas juga menegaskan bahwa istilah “pendidikan” yang digunakan sekarang ini, secara normal, bersifat fisik dan material serta berwatak kuantitatif. Hal tersebut lebih disebabkan oleh konsep bawaan yang termuat dalam istilah tersebut berhubungan dengan pertumbuhan dan kematangan material dan fisik saja. Esensi sejati proses pendidikan telah diatur menuju pencapaian tujuan yang berhubungan dengan intelek atau ‘aql yang ada hanya pada diri manusia.
Dari sinilah kemudian, dengan konsep ta’dib-nya, Al-Attas menjelaskan bahwa orang terpelajar adalah orang baik. “Baik” yang dimaksudkan di sini adalah adab dalam pengertian yang menyeluruh, “yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.” Oleh karena itu, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan Al-Attas sebagai orang yang beradab. (baca: Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas).
Oleh sebab itu, pendidikan, menurut Al-Attas adalah “penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang—ini disebut dengan ta’dib.” (baca: Aims and Objectives). Sebagaimana al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalan Nabi Muhammad Saw., yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai Manusia Sempurna atau Manusia Universal (al-insan al-kulliyy). Perkataan adab sendiri memiliki arti yang sangat luas dan mendalam. Selain itu, Al-Attas melanjutkan, ide yang dikandung dalam perkataan ini sudah diislamisasikan dari konteks yang dikenal pada masa sebelum Islam dengan cara menambah elemen-elemen spiritual dan intelektual pada dataran semantiknya.
Maka, berdasarkan arti perkataan adab yang telah diislamisasikan itu dan berangkat dari analisis semantisnya, Al-Attas mengajukan definisinya mengenai adab:
Adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual, dan spiritualnya. (baca: The Semantics of Adab)
Al-Attas, sekali lagi menegaskan bahwa pendidikan sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang sebenarnya tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. Dalam proses pembelajaran, siswa akan mendemonstrasikan tingkat pemahaman terhadap materi secara berbeda-beda, atau lebih tepatnya pemahaman terhadap makna pembelajaran itu. Hal ini karena ‘ilm dan hikmah yang merupakan dua komponen utama dalam konsepsi adab benar-benar merupakan anugerah Allah Swt. (baca: Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib Al-Attas).
Tegasnya, bahwa adab mensyaratkan ilmu pengetahuan dan metode mengetahui yang benar. Dari sinilah kemudian, pendidikan Islam memainkan peranannya serta tanggung jawabnya di dunia dan tujuan akhirnya di akhirat. Dari sini tampak sangat jelas dalam mata hati kita bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta’dib. Dari sinilah kemudian, menurut Al-Attas, konsep ideal pendidikan Islam adalah ta’dib.
Epilog
Alhasil, mentauhidkan diri kepada Allah adalah prioritas utama dalam pendidikan Islam. Hal tersebut tidak lain diperoleh melalui ridha Allah. Dengan mengajukan konsep ta’dib sebagai pengganti dari pendidikan Islam diharapkan agar peserta didik tidak hanya memperoleh intelek dan ‘aql saja. Tetapi lebih dari itu semua, yaitu peserta didik benar-benar mampu menjadi orang yang terpejalar, dan orang yang beradab. *
Penulis adalah Mahasiswa pada Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo Fakultas Ushuluddin, Jurusan Ilmu Akidah
Foto: ant
Silaturahmi Kultural, Catatan Peringatan Harba KB PII Jogjakarta
Alhamdulillah, HARBA PII ke-70 KB PII Yogyakarta Besar, 6 Mei 2017 di Gedung Perjuangan YKU Jalan Mangkuyudan terlaksana dengan lancar dan meriah. Kesederhaan dan kesahajaan nampak jelas dalam suasana HARBA ke 70.
Tema yang di usung adalah Kultural dan Silaturahmi, maksudnya adalah KB PII dan PII harus mengambil peran strategis dalam membangun budaya karakter bangsa terutama budaya karakter pelajar sebagai anak panah peradaban. Sedangkan silaturahmi mengandung makna bahwa kader-kader PII harus mampu mengoptimalkan jejaring yang telah di milikinya untuk ikut membangun NKRI.
Prosesi acara di mulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan Mars PII dan Mars PII wati. Dengan penuh semangat para peserta HARBA menyanyikan lagu tersebut yang diiringi oleh Organ Tunggal Kang Barzan, guru senior di Sekolah Musik Yogyakarta.
Prof. Dr. Djam’annuri, MA, Guru Besar Fakultas Ushuludin UIN Sunan Kalijaga dalam orasinya menyampaikan pentinganya menajamkan keimanan di era globalisasi, Kata Kang Djam’an, era global cenderung berwajah materialistik, liberal, sekuler dan pragmatis. Oleh karena itu, keimanan harus disemai kembali untuk ikut bertanding berkompetisi di era global ini. Sekitar 200 pesaerta Harba menyimak dengan khidmat orasi Kang Djam’an.
Setelah orasi dilanjutkan dengan pre Lounching Buku Sejuta Kisah “Mereka yang Bergerak di Kanan Jalan” dengan memberikan tiga buku kepada perwakilan dari Peserta HARBA, yaitu Kanda Halimi sebagai Ketua Umum KB PII Yogyakarta Besar, Yunda Mutmainnah sebagai Keluarga Besar PII Wati dan Dedy NS Ketua Umum PII Yogyakarta Besar mewakili PW PII Yogbes.
Di HARBA kali ini juga di dilaksanakan pelantikan Pengurus LBH Catur Bakti Yogyakarta dengan direkturnya Kang Ridwanto, SH,MH, sekaligus dengan peresmian kantor baru. Banyak harapan untuk LBH ini, terutama kiprah nyata bagi masyarakat umum di Jogya yang membutuhkan bantuan hukum.
Setelah acara pelantikan pengurus LBH Catur Bakti Yogykarta, dilanjutkan paparan proses pembangunan gedung YKU oleh Kanda Sigit Gaurisangkar sebagai ketua panitia pelaksana pembangunan Gedung YKU.
Gedung YKU ini nantinya akan dijadikan pusat kegiatan keumatan, maka perlu peran serta dari seluruh KB PII untuk segera merampungkan proses pembangunannya.
Tentu saja ada pesan dari panitia, bagi yang ingin menyalurkan sebagian hartanya untuk pembangunan Gedung YKU bisa menghubungi Bendahara Panitia Pembangunan yakni melalui Ridwan Irawan (08562877465) atau bisa di transfer langsung ke no. Rek. 709 548 9642 atas nama PANITIA PEMBANGUNAN GEDUNG YKU, Jl. Mangkuyudan No. 34 Yogyakarta.
Acara paparan proses pembangunan Gedung YKU ini sekaligus mengakhir acara resmi HARBA PII Ke 70 KB PII Yogyakarta Besar. Kemudian di lanjutkan dengan acara nostalgia ber PII ria dengan menyanyikan lagu lagu PII; Hymne, Musafir Kelana, Es Lilin dan lagu lagu PII lainya yang membuat kenangan kembali ke jaman aktif di PII dulu.
Suasana Harba kali ini menjadi semakin “mengkultural” dan “mengkuliner” dengan adanya sajian menu masa jadoel. Masing-masing peserta Harba memang diimbau membawa makanan khas dari daerahnya, misalnya; wajik, ketan , tempe bacem, wingko, getuk, nogosari, minuman khas Wonosobo Carica dan lain sebagainya. Acara kuliner diakhiri dengan makan Soto Yu Ririn, mantan aktifis PII Yogbes yang kini berbisnis kuliner Soto Lamongan.
Teryata HARBA kali ini benar-benar menjadi ajang silaturahim dan nostalgia oleh kanda dan yunda KB PII Yogbes. Setelah dari YKU , sebagian besar peserta HARBA melanjutkan acara reunian di Cangkringan, lereng Merapi yakni di kediaamannya Yu Iin. Sambil ngobrol santau dan menikmati dinginnya lereng Merapi, Kanda dan Yunda menikmati lezatnya nasi brongkos.
Tak hanya itu, sebagian dari aktivis PII era 70-an masih melanjutkan kegiatannya di malam hari Untuk mengenang “jaman susah” ketika aktif di kegiatan malam PII era 70-an, yakni dengan santai dan jagongan di angkringan di ex Asdafi.
Jogja memang luar biasa. Maka tidak heran bagi siapa saja yang pernah merasakan hidup belajar dan aktif di Jogja, pasti suatu saat akan menginginkan untuk “Pulang ke Kotamu”.
Semoga HARBA KE 70 PII ini memberikan tonggak kebangkitan bagi PII, Umat Islam Indonesia untuk ikut secara aktif membangun dan mengelola NKRI.
Ridwan Irawan
KB PII Jogjakarta Besar
Situs PN Negara diretas, Pelaku Memprotes Vonis Ahok
Jakarta, Kanigoro.com – Situs milik pengadilan negeri Jembrana Bali, diretas oleh orang tak dikenal. Peretas melakukan defacing dan mengganti halaman muka dengan kallimat protes terhadap putusan pengadilan negeri Jakarta Utara yang memvonis Ahok dua tahun penjara.
Pantauan Detik.com dan Kompas.com hingga sekitar pukul 22.00 (Rabu, 10/5), situs pn-negara.go.id ketika dibuka hasilnya muncul halaman web berwarna hitam. Ada foto meme Ahok yang diberi tulisan “give his all to his country, guilty and sentenced 2 years in jail”.
Ahok sebelumnya dinyatakan bersalah telah menodai agama karena perbuatannya yang mengutip Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51 di Kepulauan seribu. Majelis Hakim memvonis Gubernur DKI Jakarta itu dengan hukuman dua tahun penjara dan langsung memerintahkan penahanan.
“Simple explanation: they didn’t know the difference between “eat with spoon” and “eat spoon”. They claimed both are same meaning, and made this governor guilty, the end,” tulis sang peretas.
Peretas juga menyertakan tanda pagar #RIP Justice In My Country. Tak lupa sang peretas juga meninggalkan identitas anonimnya, yakni KONSLET & Achon666ju5t. Sang peretas juga meninggalkan alamat email presidentkuvukilland@gmail.com.
(th)*
Umat Islam Harus Siapkan Strategi Pemenangan Pilgub Jabar dan Pilpres 2019
Bandung, Suarapelajar.com – Diskusi Panel yang diselenggarakan oleh PC KBPII Kota Bandung bertopik “Peta Politik Indonesia Menjelang Pilpres 2019 Pasca Pilkada DKI Jakarta” di Kantor PW KBPII Jabar dengan Narasumber Wakil Walikota Bandung H. Oded M. Danial, Pakar Komunikasi Politik Prof. Dr. Asep Saiful Muhtadi dan Ketua Umum KBPII Jawa Barat Ujang Syahrudin berlangsung meriah karena dihadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari pimpinan partai politik, Ormas Islam dan aktivis PII (11/5).
Dalam presentasinya Asep Saeful Muhtadi yang sapa diakrab Kang Asep mengatakan Pilkada DKI Jakarta kemarin adalah potret kekuatan umat Islam untuk Pilpres 2019. “Secara jumlah umat Muslim di Indonesia mencapai 90%, tetapi hasil Pilkada DKI Jakarta menunjukkan suara umat Islam adalah 58% (yang memilih Anies-Sandi), dalam Pilpres nanti pun umat Islam yang memiliki kesadaran politik tidak jauh berbeda dengan presentasi Pilkada DKI Jakarta. Parpol Islam jika ingin menang maka harus bisa merawat kekuatan umat Islam ini. Tidak saja untuk Pilpres 2019 tapi juga untuk masa depan politik umat Islam,” ujar Asep yang pernah meraih predikat sebagai dosen teladan versi Kemenag RI tahun 2010.
Menyikapi Pilgub Jabar 2018, Wakil Walikota Bandung Oded M. Danial memiliki pandangan bahwa hanya dengan pembinaan Tarbawi umat Islam dapat mencapai kejayaannya. “Kalau kita punya cita-cita tinggi, visi jauh kedepan, maka itu harus melalui pembinaan berkelanjutan. Dengan pembinaan tarbawi ini kita dapat meraih cita-cita tersebut. Percuma jika punya cita-cita tinggi tetapi tidak ada sistem pembinaan yang jelas, hal itu akan sulit dicapai. Kaderisasi ini penting bagi perjuangan umat Islam” ungkap H. Oded yang didukung masyarakat Kota Bandung untuk maju sebagai Calon Walikota Bandung tahun 2018.
Pada sesi tanya jawab ada pertanyaan yang disampaikan Prof. Dr. Nanat Fatah Natsir mantan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang hadir juga sebagai peserta diskusi menyinggung soal pernyataan Ridwan Kamil tentang sudah mengeluarkan tiga ratus izin rumah ibadah non muslim.
Menjawab pertanyaan tersebut Wakil Walikota Bandung ini mengklarifikasi bahwa setelah ia minta data dari Kabag Kesra dan Dinas Perizinan bahwa data 300 izin tersebut bersumber dari Kemenag, dan itu termasuk juga masjid dan rumah ibadah lainnya.
“Fakta di lapangan selama saya memimpin di Kota Bandung ini, penambahan Gereja di Bandung juga sangat sedikit, apalagi rumah ibadah agama lainnya. Data 300 ini termasuk masjid dan rumah ibadah non muslim lainnya” ujar Oded yang pernah menjadi aktivis PII di Tasikmalaya ini.
Diskusi Peta Politik Umat Islam Menjelang Pilpres 2019 Pasca Pilkada DKI merupakan rangkaian dari acara pelantikan PW KB PII Kota Bandung dan peringatan Hari Bangkit ke-70 Pelajar Islam Indonesia. Pada kesempatan ini dilangsungkan juga pelantikan PC KB PII Kota Bandung periode 2017-2016.
(Rep: Bung Helmy)








