iPhone 8 bakal Punya Pengenal Wajah

SUARAPELAJAR.COM, Jakarta – Pengguna iPhone nanti tak sekadar bisa membuka ponsel dengan sidik jari, tapi juga menggunakan wajahnya. Setidaknya itu yang dibeberkan oleh bocoran anyar iPhone 8.

Informasi ini diungkap ke publik oleh seorang bernama Steve Troughton-Smith. Menurutnya firmware speaker pintar Apple HomePod secara tak langsung telah membeberkan hal tersebut. Di salah satu baris kode pemrograman di firmware HomePods tertulis yang namanya BKFaceDetect dan Pearl ID.

BKFaceDetect lantas diasumsikan sebagai Biometric Kit Face Detect, sementara Pearl ID dianggap sebagai teknologi anyar pengenal wajah milik Apple.

Spekulasi beredar menyebut alasan Apple melakukan hal ini tak lepas dari keputusannya memindahkan sensor sidik jari ke bodi belakang. Sehingga pengguna yang tidak terbiasa, bisa memanfaatkan fitur pengenal wajah untuk membuka ponsel.

Terlepas dari itu, informasi lainnya yang hadir bersamaan turut mengungkap kepastian desain iPhone 8. Meski mengacu pada gambar sketsa bentuk, kabar yang bilang iPhone 8 akan menyodorkan tampang depan yang didominasi layar bisa jadi benar.

Pasalnya gambar yang dimaksud disebut berasal dari buku manual iPhone 8 itu sendiri. Di situ juga digambarkan posisi slot kartu SIM yang ada di sisi kanan bodi.

Di sisi lain, informasi ini juga memastikan absennya kehadiran tombol home yang telah jadi ciri khas iPhone sejak di generasi pertamanya. (detiknet)

VIDEO – Baru di Kota Ini, Para Perserta Demonstrasi Damai Palestina Kebanjiran

Umat muslim dari berbagai organisasi membentangkan bendera Palestina untuk menggugah kepedulian masyarakat dan pengguna jalan untuk protes kekejian aparat zionis hingga menutup masjid Al Aqsa di Palestina, di persimpangan Mal Lembuswana Vorvo Samarinda Ulu, Jumat (28/7/2017).

 SUARAPELAJAR.COM, SAMARINDA – Persistiwa di Palestina kembali terjadi di Palestina memicu reaksi dan simpati umat muslim di Samarinda yang menggelar aksi damai.

Bertema Bebaskan Palestina dari Penjajahan Zionis Israel, Demonstrasi digelar tepat di simpang 4 Lembuswana Samarinda Kalimantan Timur, Jumat( 28/7/ 2017).

Ratusan massa dari Komite Nasional Rakyat Palestina, Pelajar Islam Indonesia(PII), Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia(HMI), Relawan Damai Al Aqsa, Borneo Cinta Alquds membentangkan spanduk bergambar kekejaman tentara Zionis.

Bendera palestina panjang sekitar 20 meter bertuliskan hapuskan penjajahan zionis di Palestina, dan mengenakan asessoris cinta dan dukung Palestina Masjidil Aqsa

Selain itu para relawan juga menggalang dana dari pengendara yang melintas.

Aksi damai dipantau ketat oleh aparat Kepolisian Mapolresta Samarinda yang dibantu personel dari Mapolda Kaltim.

Kapolresta Samarinda Kombespol Reza Arief Dewanto yang langsung berada di lokasi menyaksikan aksi unjuk rasa tersebut.

Sementara itu Sekretaris KNRP Kaltim, Taufik Hidayat menjelaskan, tujuan dari selenggarakannya aksi damai itu, yakni murni untuk menyuarakan tentang dukungan serta empati bagi warga Palestina, terutama yang berada di kota Yerusalem, tepatnya warga di sekitar Masjid Al Aqsa.

Meskipun diguyur hujan serta banjir,massa tetap melakukan aksi tersebut, dibawah pengawasan kepolisian dari Polresta Samarinda.

Lanjut dia menjelaskan, pada bulan Ramadhan silam, pihaknya telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 1,5 miliar, yang dilakukan hanya di wilayah Kaltim, dan seluruh hasil penggalangan dana itu telah di salurkan ke warga Palestina. *(tribun kaltim)

Kabupaten Paser Bersiap Menuju Menjadi Kota

Ahmad Saupi

SUARAPELAJAR.COM, Oleh Ahmad Saupi (Eks PD PII Kab. Paser)

Kota, pada sisi peradaban, setingkat lebih tinggi dari pada kabupaten. Syarat kota ialah tidak ada desa, jika masih terdapat desa, maka belum dapat menjadi kota.

Kota memiliki pendapatan perekonomian lebih tinggi dibandingkan kabupaten. Karena pergerakan perekonomian masyarakat pada kota lebih cepat dibandingkan dengan kabupaten. Pergerakan ekonomi itu dapat berupa lajunya transaksi barang dan jasa masyarakat, disebabkan karena baiknya insfrastruktur fiskal seperti kondisi jalan yang baik bagi transportasi bermotor dan transportasi pengangkutan barang, dibangunnya jalan menjadi jalur dua, sehingga dengan sendirinya bermunculan ruko-ruko serta tempat usaha lainnya di sisi jalan, di bangun jalan menjadi dua kali lebih luas untuk daya tarik bermunculannya mini market, perbankan, hotel, dan tempat usaha. Maka menjadi kota dengan sendirinya menjadi pusat perdagangan barang dan jasa bagi seluruh wilayah sekitarnya, ketika menjadi kota, kebutuhan dibangunnya pelabuhan dan bandara menjadi keharusan.

Kota mengandalkan aktifitas perputaran ekonomi masyarakat yang cepat, sedangkan kabupaten seringkali mengandalkan pendapatan dari Sumber Daya Alam (SDA). Sumber Daya Alam yang menjadi andalan pendapatan kabupaten seperti hasil ikan, karet, sawit, beras, ayam, sapi, jagung, buah, hingga batu bara dan minyak bumi. Pendapatan dari Sumber Daya Alam relatif memiliki perputaran sedang dan lambat, karena ia membutuhkan proses waktu yang sedang dan panjang dalam memperoleh hasil. Berbeda dengan Sumber Daya Alam pada sektor tambang, seperti batu bara dan minyak bumi, pengeksplorasinya memang lebih cepat, dan sangat cepat, tetapi pendapatan pada sektor ini hanya menguntungkan sedikit masyarakat, dan pemerintah, tentu dengan keuntungan yang sangat banyak.

Sebuah kabupaten merasa sangat beruntung jika terdapat lahan tambang pada wilayahnya, karena dapat menjadi pendapatan andalan bagi pemerintah. Selain menjadi pendapatan andalan pemerintah, dana sosial (corporate social responsibility) yang wajib dikeluarkan perusahaan tambang juga dapat berguna untuk pembangunan insfrastruktur masyarakat, serta dapat berguna untuk tambahan dana dari kegiatan sosial yang diadakan oleh masyarakat. Maka dari banyak generasi pemerintah, perusahaan tambang merupakan anugerah.

Sama halnya Sumber Daya Alam lainnya, sektor tambang juga tidak dapat mengupayakan kabupaten untuk menjadi kota. Kota itu memiliki perputaran perekonomian yang cepat, sedangkan pendapatan jika hanya mengandalkan sektor tambang saja tidak menghasilkan perputaran perekonomian yang cepat, dan tidak menghasilkan pendapatan perekonomian yang sama tinggi seperti yang terdapat pada kota.

Pendapatan yang tinggi bagi pemerintah disebabkan oleh perputaran perekonomian yang cepat, tidak dapat diupayakan, kecuali oleh masyarakat. Cirinya ialah meningkatnya pendapatan masyarakat dilihat dari adanya bangunan sebagai rumah dan tempat usaha yang semakin besar dari fisik bangunannya, serta peningkatan pada kendaraan yang dimiliki masyarakat, baik kuantitasnya, maupun kualitasnya.

Sedangkan pada pendapatan sektor tambang, penghasilan terbesar hanya didapati oleh sedikit masyarakat, itu pun masyarakat sebagai pegawai perusahaan, tidak bagi penghasilan seluruh masyarakat. Seluruh masyarakat tetap pada aktifitas kerjanya semula, tidak ada perubahan apa-apa walaupun banyak sekali perusahaan tambang,, dan seluruh masyarakat umum tetap pada penghasilan perekonomian yang sama. Maka adanya pendapatan sektor tambang tidak menjadikan aktifitas perekonomian masyarakat meningkat.

Pada sebuah kabupaten di Kalimantan Timur, kabupaten paser, sedari dulu pendapatan daerah mengandalkan hasil tambang batu bara dan sawit. Pada berbagai generasi bupati, insfrastruktur masih begitu-begitu saja. Terdapat peningkatan tetapi relatif sedikit.

Sudah menginjak usia lima belas tahun perusahaan tambang berdiri, jalan panjang yang menghubungkan antara ibu kota Kabupaten Paser dan Kalimantan Selatan, sedari dulu dan hingga kini jalannya masih amat banyak berlubang. Pekerjaan serta penghasilan masyarakat juga masih begitu-begitu saja. Ada peningkatan, tetapi hanya pada insfrastruktur pemerintahan, sedangkan insfrastruktur untuk masyarakat seperti kelayakan jalan dan kebutuhan jembatan, juga masih begitu-begitu saja. Telah lama sudah perusahaan tambang berdiri, tetapi tidak ada peningkatan berarti bagi kesejahteraan masyarakat.

Baru pada kepemimpinan Bupati Ridwan Suwidi,  yang menjabat selama dua periode, Kabupaten Paser benar-benar berubah. Bupati yang mendapatkan rekor muri sebagai Bupati tertua seluruh Indonesia, berumur tujuh puluh dua tahun. Jabatan Bupati sedari tahun 2006-2010 dan 2010-2015.

Selama sepuluh tahun, Kabupaten Paser yang kecil dan terpencil menjadi berkembang dan bersiap untuk menjadi kota. Hal itu karena program pemerintah yang fokus mempersiapkan diri ke depan untuk tidak lagi manjadikan hasil batu bara sebagai pendapatan utama. Maka Kabupaten Paser memformat diri untuk persiapan menjadi kota dagang.

Banyak sekali insfrastruktur yang di bangun. Dalam awal menjabat, pemerintah memperluas jalan dan membangun jalan jalur dua pada 10 kecamatan di Kabupaten Paser. Dulu jalan-jalan itu sepi dan kecil, kini ramai oleh ruko-ruko sebagai wadah usaha, perbankan, dan tampak sekali peningkatan perekonomian pada masyarakat serta rumah-rumah mereka.
Selain itu, berlanjut juga pada pengaturan tata kota yang teratur. Mulai dari pemindahan pasar dan pembangunan pasar induk. Meluaskan jalan-jalan di ibu kota kabupaten menjadi dua kali lebih luas. Membangun banyak sekali jalur dua di jalan-jalan di dalam ibu kota kabupaten. Membangun siring pinggir sungai yang dahulu kumuh, kini menjadi tepian yang indah dengan panjang sekitar satu kilo meter dengan taman, lampu, tempat duduk, dan tempat bermain anak-anak. Membangun banyak tempat untuk merayakan kegiatan atau festival masyarakat.

Juga pembangunan pada pendidikan dan olah raga. Membangun dua SMK dan satu SMA internasional. Menyediakan sekolah gratis dua belas tahun tanpa biaya. Menyediakan beasiswa kuliah pada berbagai program ke pulau jawa. Membangun stadion sepak bola dan lapangan tenis. Membangun lapangan golf. Membangun kolam renang.

Dan pembangunan bagi masyarakat. Pembangunan rumah sakit internasional. Pembangunan pelabuhan dan angkat muatnya yang saat ini baru terdapat tiga jurusan pelayaran: Makassar, Surabaya, dan Jakarta. Juga pembangunan bandara untuk pesawat penerbangan. Dan pembangunan hotel.

Sehingga kini luar biasa berubah dalam hanya satu kepemimpinan. Kabupaten Paser yang kecil dengan akses yang terpencil, kini menjadi benar-benar berubah. Walaupun tidak sedikit pula masyarakat yang memprotes berbagai pembangunan itu, karena anggaran pemerintah menjadi minus milyaran rupiah. Rupanya kebijakan fiskal ini kebijakan yang berani. Kebijakan untuk mempersiapkan agar tidak lagi menjadi ketergantungan terhadap tambang batu bara. Kebijakan agar bersiap untuk menjadi kota.

Mengenal Yanbu, Kota Pelabuhan Haji Kuno Arab Saudi

Istana tua dipelabuhan haji kuno Yanbu, Arab SaudI.

Kota pelabuhan Yanbu, sebuah pusat industri yang terletak di Laut Merah, adalah salah satu kota tertua di Kerajaan Kerajaan. Distrik pertama kota ini, Al-Suwar, dibangun sekitar lima abad yang lalu pada tahun 1494. Dulu merupakan tempat pemerintahan dan menjadi tuan rumah sejumlah kementerian dan departemen.

Ribuan umat Muslim biasa datang untuk berziarah di Makkah dan Madinah melalui pelabuhan Yanbu.

Yanbu dikelilingi oleh tembok yang kuat dengan sejumlah gerbang termasuk Gerbang Besi, Gerbang Besar, Gerbang Kendaraan dan Gerbang Kecil.

Hanya sekitar 5.000 orang yang biasa tinggal di Yanbu sebelum zaman modern ketika menjadi salah satu sentra industri Arab Saudi. Tempat ini menampung lebih dari 800 istana, rumah dan masjid.
Rumah tua (istana) di Yanbu dibedakan untuk arsitektur Hejazi, dengan ukiran yang menarik dan bentuk dan struktur teknik yang cemerlang.

Seperti dilansir saudigazette.com, Istana besar dibangun di Yanbu untuk mengadakan pertemuan para penguasa dan pejabat pemerintah. Sejumlah besar orang termasuk pemimpin suku mengunjungi tempat-tempat ini hampir setiap hari, sehingga menjadi pusat politik dan pemerintahan untuk waktu yang lama.

Penguasa menerima pemimpin suku dan para tamu penting  yang datang dari Makkah, Madinah, Jeddah, Qassim dan mancanegara.

Beberapa rumah tua di Yanbu telah dihancurkan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas kota. Namun, masih menampung sejumlah istana dan rumah besar ini, beberapa di antaranya telah direnovasi sementara beberapa lainnya memerlukan renovasi dan rehabilitasi.
Menurut sejarawan dan penulis Saudi Abdul Kareem Al-Khateeb, yang paling terkenal di antara istana ini adalah Qasr Al-Neel (Istana Nil), yang terletak di sebelah barat pelabuhan Yanbu. Itu adalah properti abadi untuk Masjid Nabawi di Madinah, yang terletak 225 km sebelah utara Yanbu, namun istana tersebut telah dihapus pada tahun 1970an.

Istana yang terkenal di Yanbu termasuk Dar Ibrahim Bin Awad Basha, yang merupakan hakim dan komisaris Yanbu di pertengahan abad ke-19. Terletak di sebelah barat pelabuhan, istana ini biasa menerima peziarah dari Maroko, Mesir dan Palestina. Itu diratakan untuk ekspansi pelabuhan.

Dahulu pejabat administrasi Yanbu, yakni Mustafa Al-Khateeb, sering menerima menteri, pangeran dan para tamun penting yang datang ke kota. Dia  juga menerima anak-anak Gubernur Makkah Al-Sharief Hussain Bin Ali – Faisal, Abdullah, Zayed dan Nouri Al-Sayeed – selama Revolusi Arab tahun 1916. Ada menara merpati di atas istana ini.

Istana terkenal di Yanbu lainnya adalah kediaman Hamid Al-Khateeb yang  terletak di distrik Rabighi Ada juga istana milik  Sheikh Zaki Omar dan Al-Hadi. Bahkan istana  Al-Hadi, sempat digunakan sebagai hotel bagi para peziarah yang datang dari Mesir. Pada tahun 1932, Istana milik  Al-Talhawi, yang terletak di Yanbu tua, juga sempat menjadi tuan rumah bagi ekonom Mesir Talaat Basha Harb dan Ahmed Basha Yaken  saat mereka mengunjungi Hejaz.

Sedangkan istana Mustafa Sabeeh, sebuah istana terkenal yang terletak di dekat gerbang unta, sempat menjadi tuan rumah bagi Raja Abdul Aziz saat ia mengunjungi Yanbu pada tahun 1945. Raja didampingi oleh anak-anaknya. Mantan Raja Farouk Mesir juga menerima Raja Abdul Aziz di rumah ini. Pertemuan bersejarah itu dikenal dengan nama ‘Radwa Summit’.

 Ada banyak istana terkenal lainnya di Yanbu termasuk Dar Al-Badaili, kediaman Gubernur Yanbu Hamad Al-Eissa. Yang lainnya dinamai Sheikh Mohammed Bin Jaber, Al-Maqdam, Al-Mubasser, Abdullah Ashour Sabeeh, Mohammed Ashour Sabeeh, Mousa Mohammed Al-Khateeb dan Mohammed Ahmed Al-Saeedi. Rumah-rumah Sheikh Hassan Babtain dan Sheikh Hussein Abdul Kareem Khateeb telah direnovasi oleh Komisi Pariwisata dan Warisan Budaya Saudi.

Rumah perwira tentara Inggris terkenal T.E. Lawrence, yang lebih dikenal dengan nama Lawrence of Arabia, berada di Yanbu dimana dia tinggal selama Revolusi Arab melawan Utsmaniyah pada tahun 1916. Rumah Lawrence sekarang sedang direnovasi oleh komisi pariwisata.

Istana Ali Hussein Zarie, Al-Jabarti, Al-Darwish, Al-Zamaee di kota ini juga terkenal karena kemewahan arsitekturalnya. Rumah Al-Jabarti sekarang tengah direnovasi di bawah pengawasan Sheikh Awad Bin Hamid Al-Zama.

Bangunan tua terkenal lainnya di Yanbu adalah Shouna, yang merupakan gudang makanan; Zaitiya dimana bahan bakar untuk kendaraan kantor pos disimpan; Penyimpanan senjata; Souk Al-Lail, yang terbuat dari lumpur dan terletak di depan pelabuhan, dan bangunan karantina untuk peziarah.

MUI akan Keluarkan Pernyataan Resmi Soal Dana Haji

Ketua Bidang Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyiddin Junaidi

SUARAPELAJAR.COM, JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengeluarkan pernyataan resmi terkait wacana dana haji yang akan diinvestasikan pemerintah ke sektor infrastruktur. Hal ini disampaikan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi.

Kiai Muhyiddin mengatakan, selama ini MUI belum memberikan pernyataan resmi terkait wacana tersebut. Menurut dia, selama ini yang beredar hanya pernyataan masing-masing individu dari anggota MUI.

“Sebetuknya, MUI belum merespons secara resmi tentang penggunaan dana haji itu untuk proyek-proyek infrastruktur, itu baru akan dibahas besok Selasa (1/8). Insya Allah rapat pleno MUI akan membahas itu dan kita akan mengeluarkan pernyataan resmi. Sementara waktu, sifatnya baru individual dan belum mewakili MUI secara resmi,” ujarnya saat dihubungi , Senin (31/7).

Karena itu, ia berharap awak media bersabar untuk menunggu hasil rapat pleno yang akan digelar di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (1/8) besok. “Saya berharap bisa ditunggu sampai besok. Nah yang lebih pas untuk berbicara masalah ini adalah Ketua Umum dan Sekjen. Memang ada sudah di sana sini yang memberikan pendapat tapi sifatnya masih sporadis dan belum menyeluruh,” ucap dia.

Ia menambahkan, sejatinya masalah pengelolaan dana haji ini sudah lama menjadi pembahasan MUI, khususnya sejak 2012 lalu. Setelah itu, kata dia, akhirnya pemerintah membuat undang-undang nomor 34 tahun 2014.

“Sebetulnya ini sudah lama dibahas tahun 2012 pada Ijtima’ ulama yang diadakan di Cipasung. Pembahasan sudah final, tapi butuh regulasi, maka dibuatlah undang-undang dibentuk lah BPKH,” kata Kiai Muhyiddin. (rol)

Dana Haji untuk Infrastruktur, Ini Saran Bankir

SUARAPELAJAR.COM, JAKARTA — Pengelolaan dana haji sebagai instrumen investasi perlu koordinasi dalam pelaksanaannya dengan memperhatikan tujuan finansialnya. Demikian  disampaika Kepala Manajemen Kekayaan dan Bisnis Digital PT Bank Commonwealth Ivan Jaya.

“Tergantung jangka waktunya juga. Kalau misalnya dipakai semua padahal ada yang membutuhkan dalam waktu enam bulan, tentunya juga tidak bisa. Saya rasa perlu koordinasi untuk mengetahui pengelolaannya seperti apa,” kata Ivan ditemui di Jakarta, Senin.

Ivan mengatakan, investasi memang seharusnya dilakukan untuk ke aset-aset yang lebih produktif. “Kalau ke aset produktif, itu bisa membantu kita berbenah. Jadi kemudian tidak perlu utang lagi. Kalau dilakukan dengan manajemen yang baik, tentunya bisa,” kata dia.

Ivan juga berpendapat investasi dana haji perlu pula untuk dibandingkan dengan pengelolaan investasi serupa di negara-negara lain.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menginginkan pengelolaan dana haji yang optimal guna mendorong pembangunan sarana infrastruktur untuk mengatasi persoalan kesejahteraan.

Sejumlah anggota Komisi VIII DPR RI yang membidani agama menilai usulan tersebut merupakan langkah yang kurang tepat karena dana haji sebaiknya untuk umat sehingga akan lebih baik apabila usulan pembangunan infrastruktur yang dimaksud adalah sarana infrastruktur untuk kelancaran penyelenggaraan ibadah haji.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemanfaatan dana haji harus secara hati-hati dan sesuai dengan tata kelola apabila ingin digunakan sebagai instrumen investasi.

“Karena ini dana umat, dia harus dikelola dengan hati-hati, transparan, akuntabel, mengikuti rambu-rambu ‘prudent’, ‘good governance’, dan harus bebas korupsi,” kata Sri Mulyani. (rol)

Panglima TNI: Tak Mungkin Ulama Merusak Bangsa

Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo

Suarapelajar.com, Solo  – Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo mengingatkan besarnya peran ulama dan umat Islam dalam memperjuangkan dan mempertahankan bangsa. Sejumlah gerakan yang dimotori ulama pada zaman kemerdekaan terbukti mampu mengagalkan rencana Belanda dan mengusirnya. Sebab itu, dia pun menampik tudingan miring sekelompok orang terhadap ulama yang disebut bakal menghancurkan Indonesia.

“Yang menyatukan bangsa ini Ulama, yang memotori perjuangan ulama, yang merumuskan dasar negara agar langgeng abadi Ulama, tidak mungkin ualama akan merusak bangsa ini,” kata Gatot saat dihadapan ribuan jamaah Majlis Tafsir Alqur’an (MTA) Surakarta pada Ahad (30/7).

Menurutnya, ulama yang menjadi provokator untuk merusak ideologi dan keutuhan bangsa tak pernah belajar dari ulama-ulama pendahulunya. Dia pun menduga ulama tersebut dikendalikan negara luar untuk memecah belah bangsa.

“Kalau dia mengajarkan ingin mengubah pancasila, ingin mengubah ideologi bangsa, jangan dipercaya, jangan diikuti, mereka itu adalah ulama dari luar atau yang pengaruhi dan dibayar untuk merusak Indonesia,” katanya. (rol)

Kurban Sinyalkan Indonesia Harus Mandiri Pangan

SUARAPELAJAR.COM, JAKARTA — Hari raya Idul Adha (kurban) tak hanya jadi perayaan tahunan umat Islam. Bila dilihat dari sisi produktif, kurban menjadi sinyal Indonesia harus mandiri pangan.

Peneliti ekonomi syariah STEI SEBI Azis Budi Setiawan menjelaskan, secara mendasar semangat kurban adalah kebaikan publik untuk memerhatikan kelompok marginal, bahkan pemberdayaan. Kalau selama ini kurban hanya di lihat sisi konsumtif, kurban juga harus dilihat sisi produktif.

Dari survei pertanian yang dilakukan BPS pada 2013, ada 27 juta rumah tangga petani. Sudah jamak diketahui pula bahwa banyak rumah tangga petani yang miskin dan termarginalkan. Harusnya kurban bisa mengangkat dan memberdayakan mereka, apalagi ini momen tahunan.

Budi mengapresiasi lembaga pemberdayaan yang sudah ke arah sana. Mereka tidak hanya mengumpulkan dana kurban dari donatur, tapi menyiapkan pengembangannya di hulu.

Model pengembangan seperti itu harus diperluas. Kurban merupakan stimulan agar Indonesia sadar ada pesan lebih besar dibaliknya. “Kata Yusuf Qardhawi, bangsa bermartabat adalah mampu memenuhi kebutuhannya,” kata Azis, Senin (31/7).

Apalagi, kurban dirayakan bersamaan di seluruh dunia. Dam haji atau kafarat harus dibayar memakai kurban. “Kebutuhan dan potensinya besar. Tapi pasokan hewannya malah dari Australia dan Selandia Baru. Maka peternak Indonesia harus jadi perhatian,” kata Azis.

Salah satu cara mengangkat nasib petani adalah mengintegrasikan usaha tani dengan peternakan. Rantai ekonomi pertanian dekat dengan peternakan. Tinggal bagaimana semua elemen masyarakat bisa terlibat. Harus ada kebijakan pemangku kepentingan untuk ke sana.

“Kurban harus daging karena ada keperluan perbaikan gizi. Ketika didesain baik, efeknya akan baik. Apalagi tiap tahun pasarnya ada,” ucap Azis. (rol)

Hitler Itu Bernama Israel

Adolf Hitler

suarapelajar.com, Oleh: Harun Husein*)

Pada 2014, operasi militer Israel ke Gaza, yang dinamai Operasi Perlindungan Tepi (Operation Protective Edge), berdalih menghancurkan peluncur-peluncur roket dan terowongan-tero wongan yang dibangun Hamas.

Berapa peluncur roket dan terowongan yang dihancurkan sejak operasi itu dilancarkan pada 8 Juli?  Yang jelas, begitu banyak warga sipil tak berdosa yang menjadi korban.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, hingga pertengahan Agustus 2014, 2.016-an warga Gaza tewas. Di antara yang tewas itu adalah 541 anak-anak, 250 wanita, dan 95 lansia.

Melihat situasi ini, mungkin benar apa yang dikatakan penulis buku Holocaust In dustry, Norman Finkelstein: “Di Gaza tidak ada perang, yang ada di sana adalah pem bantaian.”

Recep Tayyip Erdogan, pemimpin Turki, menyatakan kebiadaban Zionis-Israel di Gaza, setara dengan kebiadaban Hitler Nazi.  “Mereka (Israel) mengutuk Hitler siang dan Hitmalam, tapi kebiadaban mereka sekarang ini bahkan telah melampaui aksi barbar Hitler,” katanya saat berkampanye untuk pemilihan presiden di Kota Ordu, kawasan sekitar Laut Mati, pertengahan Juli 2014, seperti dikutip media Turki, Hurriyet.

“Genosida yang dilakukan Israel”, kata Erdogan, “Sama saja dengan holocaustyang dilakukan Hitler. Mereka (Israel) sama tidak bermoralnya dengan Hitler.”

Kecaman Erdogan, terutama yang mengait kan kekejaman Israel dengan Hitler, membuat panas kuping Perdana Menteri Is rael, Benjamin Netanyahu. Media Israel, Haaretz, memberitakan Netanyahu segera menelepon Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, untuk mengeluhkan pernyataan Erdogan. Grup lobi Ya hudi di Kongres AS, juga mengecam Erdogan dan menilai Erdogan telah mengajak rakyat Turki untuk melakukan kekerasan kepada orang Yahudi.

Grup lobi ini pun mendesak Erdogan mengembalikan award yang dibe rikan kepada Erdogan atas upayanya dalam perdamaian Timur Tengah.  Menanggapi desakan untuk mengembalikan award itu, Erdogan mengatakan dia akan dengan senang hati mengembalikannya. “Ambil kembali piala itu dan pukulkan saja di kepalamu,” katanya.

Sebenarnya Erdogan telah lama bersuara keras kepada Israel. Bahkan, pada 2009 lalu, dia pernah mengecam langsung Presiden Israel, Shimon Peres, sebagai pembunuh, saat berdiskusi di Forum Ekonomi Dunia di Davos Swiss.
Tapi, sejumlah media mencatat, baru kali inilah Erdogan memparalelkan kekejaman ZionisIsrael dengan Hitler-Nazi. Dan, kecaman kali ini, lebih menohok.

Sebenarnya, sebelum Erdogan, sudah ba nyak menilai banyak kemiripan penderi taan rakyat Gaza itu dengan kekejaman serupa yang pernah dialami orang-orang Yahudi di Eropa Timur, terutama di Ghetto Warsawa, Polandia, yang saat itu dicaplok Nazi.

Analogi itu, mencuat pada 2008-2009 silam, ketika Israel —lewat Operasi Cast Lead— mem bom bardir Gaza dan membunuh 1.440 warganya.  Saat itu, Kementerian Ke sehatan Gaza men catat  di antara yang terbunuh adalah 431 anak-anak dan 114 perempuan. Adanya kemiripan itu, antara lain disam paikan oleh Profesor William Robinson, so siolog Universitas California.

“Gaza adalah Warsawanya Israel, sebuah kamp konsentrasi yang luas, yang memenjarakan dan mem blokade orang Palestina, membunuh mereka perlahanlahan dengan kekurangan pangan, penyakit, dan  keputusasaan, sebelum kemu dian dibunuh dengan cepat oleh bom-bom Israel. Kita semua menjadi saksi dari sebuah genosida yang berlangsung perlahan-lahan,” katanya dalam email yang dikirimkan kepada para mahasiswanya.

Surat elektronik yang semula dimaksudkan untuk memancing diskusi dengan para mahasiswanya, itu,  kemudian menye bar, dan membikin gerah Zionis-Israel dan para pen dukungnya. Sebuah organisasi lobi pro-Israel, Liga Anti-Fitnah (Anti-Defa mation League), mempersoalkan isi email itu dan menuntut Universitas California, Santa Barbara, tempat William mengajar, melakukan investigasi dan memecatnya.

Cukup lama soal ini diproses, dan memancing kon troversi, sampai akhirnya pihak universitas menyatakan itu merupakan bagian dari kebebasan akademik, sehingga tak bisa dituntut.

Gara-gara emailnya yang bikin heboh itu, Prof William akhirnya dicap antisemit, meski dia sendiri seorang Yahudi. Cap antisemit, merupakan cap yang bisa merepotkan di Ba rat sana. William sendiri mengaku bingung, sebab kritiknya terhadap kebijakan Israel telah dicampuradukkan dengan tuduhan antisemit.

“Itu seperti mengatakan saya adalah anti-Amerika, karena saya mengecam pemerintah AS atas invasinya di Irak. Itu absurd, dan tidak punya basis argumen… saya sendiri adalah Yahudi,” katanya.

Selain disampaikan Prof William, Alja zeera, mencatat analogi Gaza dengan Ghetto Warsawa itu  mula-mula dimunculkan oleh kalangan blogger, dan sejumlah media utama. Gambaran lain yang juga sama buruknya, yaitu membandingkan okupasi Israel dengan apartheid di Afrika Selatan, telah kian banyak diterima oleh masyarakat dunia, termasuk di Israel sendiri.

Namun, perbandingan itu terlalu lemah untuk memunculkan gambaran penderitaan rakyat Gaza sesung guhnya. Sehingga, Gaza kemudian disan ding kan dengan Ghetto Warsawa, terutama untuk menarik perhatian media Barat.

“Itu gambaran yang tak terhindarkan, terutama setelah perang 2008 dimulai,” tulis Aljazeera.

Tapi, bukan berarti analogi tersebut hanya menjadi propaganda yang dipaksakan. Nyatanya, memang banyak kemiripan Gaza dengan Ghetto  Warsawa. Ghetto, adalah bagian dari sebuah kota di mana kalangan minoritas ditempatkan, khususnya untuk melakukan tekanan sosial, hukum, dan ekonomi.

Ghetto Warsawa, adalah ghetto terbesar di Polandia, yang pada Perang Dunia II menjadi wilayah caplokan Nazi. Di sana, 400 ribu orang Yahudi mendiami kawasan 3,4 kilometer persegi. Ghetto itu dikelilingi tembok setinggi tiga meter, yang di atasnya dipasangi kawat berduri, dan sekelilingnya dijaga pasukan yang siap mengokang senjata.
Gambaran seperti itu, kini terlihat di Gaza. Tembok yang dibangun Israel untuk memblokade Gaza, bahkan lebih tinggi, yaitu delapan meter, dengan panjang 60 kilometer. Ditambah 10 kilometer tembok yang di bangun Mesir atas bantuan AS, total tembok yang mengelilingi Gaza sekitar 70 kilometer, atau separuh panjang Tembok Berlin.

Sementara, bagian Gaza yang berhadapan dengan Laut Mediterania, juga diblokade, dan terus ditongkrongi kapal
kapal perang Israel, menjadikan kawasan laut ini pun bak tem bok tak kasat mata.

Noam Chomsky, pakar politik dan linguistik Amerika, menyebut Gaza —yang luasnya 360 ki lometer persegi, de ngan penduduk sekitar 1,5 juta orang— penjara terbuka ter besar di dunia. Dan, sekali perang pecah di kawasan padat penduduk itu, warga sipil pun langsung ter jebak di zona perang, dan mere ka tidak bisa lari ke mana pun.
Pengepungan Israel atas Gaza —yang dibantu Mesir, dengan 10 kilometer temboknya di perbatasan Rafah— telah membangkitkan memori banyak orang tentang kontrol mutlak Nazi atas Ghetto Warsawa.

Dan, bila warga Ghetto Warsawa dikirim ke kamp konsentrasi untuk dibunuh di kamar gas, di Gaza warganya dibunuhi dengan ribuan ton bom. Selain pembangunan tembok di seke liling nya, dan tembak mati bagi yang berani melintasinya, masih banyak persamaan Gaza dengan Ghetto Warsawa.

Ghetto Warsawa, juga ghetto-ghetto lainnya, dihuni oleh orang-orang Yahudi yang dipaksa keluar dari rumahnya, kemudian digiring menuju salah satu sudut kota. Sementara, kebanyakan warga Gaza, adalah pengungsi dan keturu nan nya, yang terusir dari rumah-rumah mereka pada Perang 1948.

Restriksi bagi warga Gaza dalam mendapatkan makanan, air, dan keperluan medis, dan peningkatan kasus kurang gizi dan pengangguran, juga membangkitkan memori pada Nazi, yang mencekik ghetto secara perlahan, seperti yang digambarkan Richard Falk, mantan pelapor khusus PBB tentang hak-hak asasi bangsa Palestina.

Terowongan-terowongan yang dibangun di Gaza, juga sama seperti di Ghetto War sawa. Ketika orang-orang Yahudi menggu nakan terowongan untuk menyelundupkan makanan dan barang-barang penting lainnya ke dalam ghetto.

Pada 29 Februari 2008 lalu, Wakil Menteri Pertahanan Israel, Matan Vilnai, juga menggunakan istilah yang berbau holocaust untuk Gaza. Dia mengatakan bangsa Pales tina akan membawa Shoah yang bahkan lebih besar kepada diri mereka sendiri, jika mereka tidak berhenti menembakkan roket al-Qassam ke Israel.

Shoah adalah perkataan Ibrani untuk holocaust. Bahkan, satu lagi gambaran yang meng hubungkan Gaza dengan Ghetto Warsawa, adalah apa yang digambarkan oleh petinggi Hamas, Mahmoud al-Zahar. Dia kerap menggambarkan serangan Israel ke Gaza sebagai sebuah perang total.

Bahasa ini, tulis Aljazeera, jelas dimaksudkan untuk meng hubungkan aksi Israel di Gaza sebagai sebuah genosida, seperti yang dilakukan Jerman selama Perang Dunia II. “Jika semua perbandingan ini telah terjadi, maka perbandingan Gaza-Ghetto Warsawa akan benar-benar nyata, menjadi sebuah holocaust untuk bangsa Palestina.

”Apa yang dilakukan Israel terhadap Muslim-Palestina ini, sangat jauh berbeda dengan yang pernah dilakukan Muslim kepada Yahudi di masa silam. Dalam pida tonya di Kota Ordu, Erdogan antara lain mengingatkan Israel bahwa dulu, di bawah Khilafah Usmani, orang Yahudi justru dilindungi. “Tidakkah kalian malu? Betapa tidak bermoralnya kalian,” katanya.

Erdogan juga mengingatkan bahwa sejarah mengajarkan tidak ada kekejaman yang abadi. “Kekejaman sistematis, pembantaian, dan genosida yang terus berlangsung sejak 1948, pasti akan dibayar, cepat atau lambat. Tangis anak-anak (Gaza), pasti akan terjawab,” tandas Erdogan.

*) Wartawan Senior Republika

Memberi Uang Kepada Gepeng Akan Dikenakan Denda!

Anak jalanan dan gepeng di Kota Tepian

suarapelajar.com, Samarinda. Dinas Sosial (Dinsos) Samarinda mendapat bantuan dari perbankan untuk mencetak plang dan spanduk larangan memberi kepada anak jalanan (anjal) dan gelandangan pengemis (gepeng).
“Ini lagi dipesan. Ada 35 plang, 50 spanduk dan brosur-brosur,” kata Kepala Dinsos Samarinda, Ridwan Tassa.

Namun, saat ini, Dinsos masih menunggu kepastian nomor Raperda Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Pasalnya, nomor tersebut akan dicetak di plang dan spanduk yang akan ditebar di 15 titik persimpangan di Samarinda.

“Saat ini Raperda PMKS masih dibahas. Otomatis belum ada nomor perdanya. Tapi, kalau nomor perdanya bisa ada duluan, lebih bagus biar bisa dicetak. Jadi, begitu perda disahkan, kita segera bisa deklarasi,” kata Ridwan.

Nantinya, plang yang akan dipasang di persimpangan ini bersifat permanen, hingga belasan bahkan puluhan tahun.

“Makanya, kita perlu nomor Perdanya,” katanya lagi.
Pesan di plang maupun spanduk yang akan ditebar tersebut menekankan agar masyarakat tidak memberi uang kepada anjal-gepeng.

“Tulisannya yang paling besar itu, Dilarang Memberi. Kalau memberi ini sanksinya. Sedangkan nomor perda-nya itu kecil saja. Saya yakin pemasangan plang dan spanduk ini akan efektif mengurangi masyarakat memberi ke anjal-gepeng,” katanya lagi.

beliau juga mengatakan akan bekerjasama dengan beberapa lembaga dan organisasi masyarakat guna mengurangi masalah sosial ini. “kita akan kerjasama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII) Kalimantan Timur dalam mengurangi masalah gepeng terutama masalah anak jalanan.” tutur Ridwan Tassa

Ditempat lain Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia, Fadil Hidayatul Fajri menuturkan “kita mengapresiasi Dinas Sosial Samarinda percaya terhadap PII, ini merupakan langkah nyata kita dalam gerakan Sahabat Pelajar, dimana PII menjadi Solusi Alternatif bagi pelajar di Indonesia khususnya Kota Samarinda. kita juga punya program studentpreuner yang melatih jiwa kewirausahaan para pelajar”.tutup fadil *(dull)